Contents :
Hasil Launching HCVF Hari/tanggal Tempat Pukul Peserta : Kamis 29 Maret 2007 : Ruang Kinanti/Hotel Salak Bogor : 09.00 16.30 Wib : Ammy Nurwati (Dephut Hutan Tanaman) Albertus (Green Borneo) Susanto Kurniawan (Jikalahari) Kusnadi (BPHA DEPHUT) Philip Wells (Independent) Didik Prasetyo (TFT) Sulistya Ekawati (Puslit Sosek & Kebijakan Kehutanan Bogor) R. Kiki Taufik (Sarvision Indonesia) Kuswandono (BOS) Dian Novarina (APRIL) Chairul Saleh (WWF) Jonotoro (Independent) Shelly Novi (Puslitbang Dephut) Hasbillah (TFF) Ahmad Zazali (Scale-up) Iman BS (Depdagri) Irawati (Kebun Raya) Rismita Sari (Kebun Raya Bogor) Eliezer Lorenzo (APRIL) Junaedi (Tropenbos) Dicky Simorangkir (Tropenbos) Deni Wahyudi (Tropenbos) Alfa Ratu Simarangkir (Tropenbos) Sugeng Prijadi (Bakosurtanal) Tri Suryono (Limnologi LIPI) Deddy Rochyadi (PLA Deptan) Ferry Lolong (Dit. BRPHP) Iwan Djuanda (PT. Ernawati) Zulfahmi (Independent) Edi Mirmanto (Biologi LIPI) Agus Salim (Independent) Asril Darusamin (Komisi Minyak Sawit) Siswoyo (Fahutan IPB) Azwir Malaon (Dep. Pekerjaan Umum) Soewarno Hasan Bahri (Fahutan UGM) Efsa .C (Dephut) Triana (Independent) Cecep Saepulloh (PT. TUV) Edi Purwanto (Opwal Trust) Ety Ambarwati (Dephut) Ian Hatton (Hatfield Indonesia) Stephan Wulffraat (WWF Indonesia) Yana Juhana (Baplan Dephut) Izefri Caniago (WARSI Padang) Jenny Delam (Depnakertrans) Murdiatun (Depnakertrans) Eko N (Baplan Dephut) Ganip Gunawan (Aksenta) Harry Oktavian (FKD RIAU) Tom Maddox (ZSL) Machmud Thohari (IPB) Yudi Iskandarsyah (TNC) Yana (Tropenbos) Rina Agustine (Telapak) Wibowo Djatmiko (LATIN) IBW Putra (PT. SBK) Agus Iskandar (PT. SBK) Kartini Susandi (Sawit Watch) Betty Tio M (Down To Earth) Maria Dyah R. (Perhutani) Elis (PILI) Dika (PILI) Khaerul Saleh (IPB) Edi Djuwarsa (PHKA) dan M. Indrawan (YABSHI) Presentasi tentang sejarah perkembangan HCVF Oleh: Dicky Simorangkir (Tropenbos) HCVF bersumber dari prinsip FSC yang ke-9 yakni dari proses sertifikasi hutan alam. Nilai konsentrasi yang tinggi yang terdapat diareal pengusahaan harus dikelola dan dimonitoring sehingga nilai-nilai yang sudah teridentifikasi tersebut dipertahankan atau malah semakin ditingkatkan nilainya. Definisi yang ada di prinsip 9 dari FSC kurang jelas merinci HCV dan bagaimana mengidentifikasi nilai tersebut. Oleh karena itu pada tahun 2003 proforest mengembangkan suatu toolkit untuk mengidentifikasikan HCV di hutan alam. Dalam perkembangannya HCVF digunakan dibanyak negara dan diperbagai sektor usaha. Di Indonesia sendiri dikembangkan HCVF Toolkit Indonesia yang sangat mengacu pada global toolkit HCVF dan untuk hutan alam. Nilai-nilai yang terkandung dalam HCVF meliputi 6 HCV. Dalam kurun waktu 3 4 tahun terakhir HCVF menjadi isu yang sangat penting di Indonesia yang disebabkan oleh: http://hcvfrevisiontoolkitwg2.pbwiki.com/ Fri 20 Apr 2007 11:25:30 semakin meningkatnya kesadaran banyak pihak akan konservasi termasuk isu HCVF - semakin banyak lembaga keuangan atau buyer yang mensyaratkan HCVF bagi pengelola hutan Isu HCVF sudah diadopsi pada: RSPO di buku panduannya pada kriteria 73 menyatakan bahwa: Perkebunan yang dibangun sejak November 2005 tidak boleh menggantikan hutan primer atau hutan yang terindikasi sebagai hutan dengan nilai konservasi tinggi. - Terkandung dalam berbagai aturan kehutanan seperti di SK. 162/kpts-II/2003 - SK Menhut 06/2006 butir 4 menyatakan bahwa untuk pelaksanaan deliniasi makro dan mikro dinas kehutanan melakukan pengawasan terhadap hutan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi. Beberapa tahun terakhir toolkit HCVF versi Indonesia sudah dipakai oleh banyak lembaga penelitian and organisasi untuk mengidentifikasi nilai konservasi yang tinggi pada daerah tertentu. Dalam pelaksanaannya ditemukan kesulitan dalam melaksanakan panduan toolkit tersebut. Beberapa penyebabnya diantaranya: Toolkit ini semula dibuat hanya untuk sertifikasi hutan alam namun sekarang dipakai untuk berbagai sektor - Skala/cakupan kurang jelas (FMU atau landskap) - Legalitas toolkit yang ada dalam beberapa bagian tidak disinergikan dengan aturan yang ada - Tidak jelas siapa yang menjadi target dari toolkit ini - Subyektif dan kualitatif yakni nilai yang ada di dalam toolkit sulit untuk diukur - Keterkaitan yang kurang jelas antara satu nilai dengan nilai yang lain - Terminologi/bahasa dalam toolkit tidak konsisten dalam penggunaannya Hal-hal inilah yang menjadi alasan toolkit ini perlu untuk direvisi dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia. Pada tahap selanjutnya direncanakan untuk membuat toolkit http://hcvfrevisiontoolkitwg2.pbwiki.com/ Fri 20 Apr 2007 11:25:30 pengelolaan kawasan yang sudah teridentifikasi memiliki HCV karena hal ini lah yang sebenarnya diperlukan oleh para pengelola hutan. Presentasi tentang proses revisi HCVF toolkit Oleh: Gary Paoli (IndRI) Toolkit HCVF Indonesia yang disusun pada tahun 2003 merupakan tahap
- Rating :
- Surf Anonymously!
- File Type : .pdf
- Length : 13 pages
- File Size: 64.7 kb
- Virus Tested : No
- Verified : 2012-07-11
- Source: www.indri-indonesia.org
INFO HASH : a880c40f9281cf82744feaa747a902f9d11a99fb
blog comments powered by Disqus

Download now